| Saya ingin menjadi reseller tapi saya tidak punya toko, bagaimana ? |
|
Memang untuk berjualan, sebaiknya anda punya "toko". Dalam hal ini pengertian "toko" tidak berarti anda mesti mempunyai lapak, kios, ruko, dll; melainkan "tempat berjualan yang terbuka dan sering dikunjungi pelanggan". Jadi misalnya anda sudah terkenal di perumahan berjualan nasi uduk dan pintu rumah anda selalu terbuka untuk warga yang ingin membeli nasi uduk, itu berarti anda sudah punya "toko". Demikian pula halnya jika anda sekarang berjualan brownies, kue pisang, chicken nugget atau bahkan berjualan kaos, pakaian bayi, buku-buku; berarti sudah ada "toko" nya. Seandainya ternyata anda ternyata tidak mempunyai tempat berjualan yang tetap seperti di atas, juga tidak masalah. Beberapa reseller kami adalah ibu rumah tangga yang tiap hari kerjanya mengantar dan menjemput anaknya bersekolah / kursus. Waktu menunggu selesainya kegiatan si anak, dimanfaatkan untuk berjualan kepada sesama ibu-ibu yang menunggu anak masing-masing. Produk jualannya bervariasi dan bermacam-macam, bisa berupa makanan, pakaian, buku-buku pendidikan sampai paket liburan. Jika anda mempunyai kegiatan mengantar buah hati menjalankan kegiatannya, menjadi reseller kami yang berhasil sudah pasti bisa. Mungkin pertanyaan anda yang lain adalah: "saya bukan merupakan salah satu orang seperti yang disebutkan di atas, saya adalah pegawai yang bekerja di kantor". Baiklah, untuk menjawabnya, kembali kami berikan contoh yang lain. Seorang reseller kami adalah pegawai suatu perusahaan di kawasan segitiga bisnis di Jakarta. Ibu itu berkantor di gedung pencakar langit yang tentu saja ditempati oleh banyak sekali kantor dan sangat banyak karyawan, "sampai ribuan orang" demikian ujarnya. Kebetulan ibu ini pandai berteman, baik dengan rekan sekantor maupun dengan karyawan kantor lain. Dengan demikian terciptalah peluang yang bagus. Sebelumnya, ibu ini tidak berjualan apa-apa karena, menurutnya, segala macam barang yang bisa ditenteng dan dijual di kantor sudah ada yang menjual sehingga persaingan cukup berat. Kesulitan terbesar adalah mencari "titik masuk" (entry point), karena setidaknya diperlukan suatu produk baru dan unik sehingga dia diingat mempunyai produk menarik tersebut. Suatu saat, dia diberi produk singkong bumbu oleh sepupunya. Setelah mencoba, terpilkir olehnya"wah ini makanan enak yang bisa dijual di kantor", dan singkatnya setelah menemukan alamat kami, ibu tersebut berjualan produk singkong bumbu sampai hari ini. Dari beberapa cerita diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa untuk menjadi reseller singkong bumbu harum rasa, anda tidak harus mempunyai "toko" melainkan harus mempunyai "pasar" (calon pelanggan potensial) dan kemauan untuk menjual (berdagang). Dengan bekal kedua hal tersebut, seharusnya tidak ada lagi masalah besar yang mesti dihadapi. |