| Singkong Raksasa Gegerkan Warga |
|
|
|
| Ditulis oleh Kompas.Com | |||
| Jumat, 22 Januari 2010 10:19 | |||
|
Pertanian Singkong Raksasa Gegerkan Warga Kompas.Com Jumat, 22 Januari 2010 | 10:19 WIB Bantul, Kompas - Singkong raksasa dengan lingkar 95 sentimeter dan panjang 75 sentimeter menggegerkan warga Dusun Mandingan, Desa Ringinharjo, Bantul, Kamis (21/1). Singkong dengan ukuran tidak lazim itu menjadi tontotan warga yang sebagian besar mengabadikannya dengan foto. Singkong tersebut milik Wakijan (51), warga Dusun Mandingan. Jenisnya adalah singkong meni yang ditanam sejak 2007. Wakijan terpaksa mengangkat singkong itu karena ia akan menggelar hajatan perkawinan anaknya. "Kalau mau hajatan, halaman depan rumah harus bersih makanya tanaman singkong harus diangkat," katanya. Wakijan mengaku kaget ketika mendapati pohon singkong berbuah sebesar itu karena ia tidak memberikan perlakuan khusus. Ia hanya membuat rongga di sekitar singkong dan menutupnya dengan pasir. "Tujuan rongga itu supaya pertumbuhan singkong terus membesar. Kalau tidak diberi rongga, buah sulit membesar karena harus mendesak tanah yang keras. Itu yang saya pahami, meski tidak saya peroleh dari buku-buku pengetahuan. Saya hanya coba-coba saja, ternyata dugaan saya benar," ujarnya. Tahun 2007, Wakijan menanam lima batang singkong di halaman rumahnya. Tiga pohon sudah dipanennya setahun kemudian. Dua batang sengaja disisakan karena ia melihat pertumbuhan singkongnya terus membesar. "Saya ingin tahu maksimalnya. Kalau bukan karena acara hajatan, saya juga tidak akan mengangkatnya," tuturnya. Menanggapi fenomena itu, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto berencana memanggil Wakijan untuk mengorek teknik budidaya singkong itu. "Kalau memang teknik tersebut efektif, bisa disebarluaskan ke petani lain," katanya. Pada umumnya, singkong meni yang tidak diangkat selama setahun akan gembos kemudian membusuk. Bila Wakijan bisa mempertahankan singkong hingga tiga tahun, itu tergolong luar biasa. Ia menambahkan, minat petani Bantul terhadap singkong masih minim. Rendahnya nilai tukar singkong dan minimnya perhatian pemerintah terhadap teknologi pengembangan singkong menjadi faktor penyebab. Padahal, kebutuhan singkong di Bantul cukup tinggi, khususnya untuk industri gatot-tiwul. (ENY)
|