Home Kabar Singkong Cassava Jadi Alternatif
Cassava Jadi Alternatif PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Kompas.Com   
Jumat, 27 Februari 2009 00:00
"Cassava" Jadi Alternatif
Kompas
27 Februari 2009,

Jakarta, Kompas - Tepung singkong atau cassava akan dijadikan sebagai bahan baku pangan alternatif utama guna menyubstitusi tepung terigu. Bulog akan memfasilitasi pelaksanaan diversifikasi pangan berbasis tepung singkong.

Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, Kamis (26/2) di Jakarta, mengungkapkan, unit usaha Perum Bulog memiliki posisi strategis dalam mendorong terciptanya diversifikasi pangan berbasis tepung singkong. ”Swasta dan masyarakat berjalan sendiri memanfaatkan tepung singkong, kami akan memfasilitasi agar bisa dikembangkan secara nasional,” katanya.

Bentuknya bisa kerja sama perdagangan, karena Bulog memiliki jaringan distribusi yang luas. Tepung singkong bisa menjadi pangan pengganti utama untuk menyubstitusi tepung terigu dan konsumsi beras.

Dalam pertemuan dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD), badan di bawah PBB itu juga mendukung pemanfaatan tepung singkong.

Meskipun belum menjadi gerakan nasional dan didukung kebijakan makro pemerintah, Bulog akan mengupayakan terus agar tepung singkong bisa diadopsi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, produksi singkong 2008 mencapai 20,8 juta ton. Lahan tanaman singkong seluas 1,17 juta hektar (ha) dengan produktivitas rata-rata 17,6 ton per ha. Teknologi pertanian terkini memungkinkan produktivitas tanaman singkong ditingkatkan menjadi 50-60 ton per ha.

Implementasi lemah

Dalam rapat dengar pendapat dengan Panitia Ad Hoc (PAH) II Dewan Perwakilan Daerah, Mustafa mengungkapkan konsep diversifikasi pangan yang bertumpu pada sumber pangan lokal, lemah dalam implementasi.

Akibatnya, program difersifikasi pangan tak berjalan optimal. Apalagi belum ada lembaga yang bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan diversifikasi. Banyak sumber pangan lokal yang tidak dikembangkan, seperti singkong, sagu, dan sorgum atau canthel.

Pengamat perberasan, Husein Sawit, mengungkapkan, pada tahun 1970-an, ketika produksi beras dunia rendah karena belum ada revolusi hijau, harga beras dunia terus berfluktuasi tajam.

Tepung terigu yang terbuat dari gandum kemudian menjadi pilihan pangan alternatif yang diusung United States Agency International Development (USAID).

”Ketika itu Bulog juga menjadi fasilitator diversifikasi pangan dari beras ke gandum. Pada awalnya, masyarakat menolak, lama-lama permintaan meningkat,” ujar Husein.

Konsumsi per kapita gandum yang pada tahun 1970-an hanya sekitar 3 kilogram (kg) per orang per tahun, tetapi 40 tahun kemudian naik menjadi 17 kg.

Sementara itu, Ketua PAH II DPD Sarwono Kusumaadmadja menyatakan, diversifikasi pangan harus jadi program yang jelas oleh pemerintah.
 
Designed by Harum Rasa