KITA sudah tahu akan manfaat besar singkong sebagai diversifikasi pangan. Hanya saja sangat disayangkan nasib singkong ini masih menjadi anak tiri. Apalagi ketika singkong diolah menjadi tepung tapioka. "Nasibnya terpuruk karena harus bersaing dengan tepung terigu. Kadang agak sulit menemukannya di pasaran karena adanya mafia terigu yang secara berani menggempur pasar tepung," jelas Bachtiar Pramus lulusan dari Universitas Mulawarman ini.
Apalagi orang juga masih meremehkan tiwul. Tiwul sering diasumsikan dengan makanan kampung dan makanan rakyat susah karena da-hulunya beras mahal hanya orang kaya yang bisa makan nasi. "Padahal tiwul gizinya sangat bagus, sangat disayangkan pemerintah masih belum menyadarinya sehingga masih saja mengimpor beras saat pasokan dirasa kurang," ujarnya.
Tiwul adalah hasil olahan dari tepung singkong melalui proses tradisional, yaitu tepung singkong ditambahkan air hingga basah dan dibentuk butiran yang seragam dengan ukuran sebesar biji kacang hijau dan dikukus selama 20-30 menit. Dulu nasi tiwul dikonsumsi sebagai makanan pokok seperti nasi beras padi atau dicampur dengan panitan kelapa sebagai jajanan. Sekarang ini jarang ditemui penjual tiwul, hanya di pasar tradisional saja. Selain itu tiwul bisa dikeringkan menjadi tiwul instan tradisional yang tahan disimpan hingga sampai satu tahun.
Bachtiar menuturkan, manfaat dan gizi singkong ini lebih banyak bila dibandingkan dengan nasi. Bahkan 6-7 ton singkong per tahun diolah menjadi tepung tapioka lalu diekspor ke Perancis atau Amerika Serikat untuk dibuat menjadi roti baquet atau roti Perancis, dm






