OLEH DIENA LESTARI t APRIKA R. HERNANOA
Popularitas singkong Ibarat tertelan zaman. Sebagai bahan pangan, ubi kayu tidak banyak dilirik. Padahal, komoditas Ini potensial menjadi sumber devisa negara. Indonesia pernah tercatat sebagai negara terbesar ketiga pengekspor produk singkong dunia dengan kontribusi sekitar 5,8% dari total kebutuhan global pada era 2005. Memang masih jauh dari eksportir terbesar, Thailand, yang memasok 77% pasar singkong dunia.
Sementara Itu, produsen ubi kayu terbesar dunia masih berada di Nigeria. Negara ini dan sejumlah negara lain di Afrika memproduksi sekitar 99,1 juta ton singkong, sedangkan 51,5 juta ton dihasilkan oleh negara-negara di Asia.
Di dalam negeri, singkong hanya ditanam di lahan kritis yang tidak dapat dijadikan persawahan untuk menanam padi. Direktur Budi Daya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Muchlizar Murkan mengakui banyak kendala dalam peningkatan produksi ubi kayu ini.
"Kendala ini tidak hanya pada sistem benih yang belum berkembang, tapi juga belum dipakainya pupuk yang unggul," ujarnya kemarin. Menurut dia, para petani ubi kayu masih enggan menggunakan benih unggul, pupuk, teknologi dan penerapan pemeliharaan tanaman yang baik dan benar.
Alhasil, Muchlizar mengakui petani ubi kayu banyak yang berpindah ke jenis tanaman lainnya. Dalam 5 tahun terakhir, luas panen areal singkong terus mengalami penurunan 0,63%. Harga rendah Akar masalah dari sejumlah kendala di atas akibat harga jual ubi kayu yang masih rendah dancenderung fluktuatif.
Ketua Asosiasi Petani Singkong Seluruh Indonesia Suparjan menuturkan harga beli produk rendah dan penerapan teknologi yang minim. "Kami menghadapi keterbatasan modal, akses kepada pasar yang rendah, serta ketidakpastian musim akibat perubahan iklim," keluhnya. Karena itu, dia berharap pemerintah membantu memperkuat posisi tawar petani melalui pelatihan budi daya singkong dan proses pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen ubi kayu.
Di lain pihak, Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia Franciscus Welirang menyatakan peningkatan produksi tidak dapat dilepaskan pada ketersediaan lahan dan jenis benih yang digunakan. "Pemerintah perlu berperan dalam mengklasifikasikan berapa banyak porsi ubi kayu yang digunakan untuk pangan, pakan, dan industri," ujarnya. Menurut dia, singkong bisa diproses lebih lanjut menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi, seperti bio-fuel dan tepung tapioka.
Dua produk turunan singkong ini prospektif laku di pasar Internasional. Tentunya, dengan ketersediaan lahan yang terjamin dan penerapan teknologi pemicu produktivitas, Indonesia bisa bersaing dengan Thailand dan Vietnam.
Memang tidak dapat dipersalngkan dengan kelapa sawit, karet atau kakao, tetapi singkong juga bisa menguntungkan jika ada komitmen membangun industri terintegrasi.






