Memang tidak mudah mengubah pola konsumsi yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Seseorang yang terbiasa mengonsumsi nasi yang berasal dari beras dalam kesehariannya, kemudian "dipaksa" untuk menyantap bahan pangan nonberas, tentunya membutuhkan waktu untuk beradaptasi.Tri Wiyatun, misalnya. Ibu rumah tangga asli Betawi itu mengaku terbiasa mengonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya sehari-hari. Nasi itu pula yang dianggapnya sebagai bahan pangan yang memenuhi kebutuhan karbohidrat bagi tubuhnya. Karenanya, ketika kepadanya ditawarkan kemungkinan mengganti nasi dengan umbi-umbian sebagai makanan pokok. Tri pun menolaknya. "Wah, sepertinya sulit. Apalagi kalau umbi-umbian itu belum diolah," ujar perempuan 35 tahun itu.
Tri beralasan ketika mengonsumsi singkong rebus, misalnya, lidah terasa hambar sehingga dia kesulitan menelan penganan itu. Bukan hanya soal rasa, keengganan Tri mengonsumsi singkong atau dikenal juga dengan ketela pohon itu berkaitan dengan soal gengsi. Warga Palmerah, Jakarta Barat, itu beranggapan kalau mengonsumsi singkong rebus sebagai makanan sehari-hari, tetangganya akan mengecap dirinya seperti orang desa.
Gengsi, menurut Ham Susianto, pengamat perilaku konsumen dari Universitas Indonesia, memang lekat dengan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia, di samping rasa dan penyajian makanan. Harry menganalogikan proses pengenalan makanan Jepang ke Indonesia. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, makanan-makanan Negeri Sakura itu dianggap cukup bergengsi Dengan rasa yang pas di lidah dan penyajian menarik, sebagian masyarakat Tanah Air bisa menerima makanan-makanan asing itu. Memang tidak semua makanan Jepang disukai. Sashimi yang berupa makanan laut segar yang dikonsumsi mentah-mentah, contohnya, sulit diterima lidah orang Indonesia.
Menurut Harry, dari analogi itu, bisa disimpulkan agar makanan nonberas dapat diterima masyarakat sebagai pangan pokok, seyogianya makanan itu diolah sedemikian rupa terlebih dahulu. Pengolahan itu bisa "menyulap" makanan menjadi sangat berbeda dari wujud aslinya.Sebagai contoh, sumber karbohidrat dari umbi-umbian yang mengandung pati bisa diubah terlebih dahulu menjadi tepung. Tepung itu kemudian diolah lagi menjadi berbagai macam hidangan roti, kue, dan mi yang kandungan kar-bohidratnya hampir setara dengan nasi.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen), Kementerian Pertanian, sebenarnya telah berhasil mengolah berbagai sumber karbohidrat dari umbi-umbian menjadi tepung. Salah satu produk unggulan tepung ubi kayu termodifikasi secara biologis diberi nama tepung kasava bimo. Tepung itu berwarna putih, bertekstur halus, beraroma tawar, dan rasanya tidak pahit."Tepung kasava bimo diharapkan dapat menjadi substitusi tepung terigu," ujar Staf Bidang Kerja Sama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, BB-Pas-capanen, Sulusi Prabawati. Memang, jika dibandingkan dengan tepung terigu yang hingga kini masih diimpor, tepung kasava bimo kalah pamor.
Jika ditelusuri lebih jauh, tepung singkong sebenarnya unggul dibandingkan dengan tepung terigu. Salah satunya, menurut Sri Murtiningsih, pengusaha kue asal Depok, Jawa Barat, penggunaan tepung singkong untuk membuat kue bisa menghemat biaya hingga separonya. Dari sisi rasa, kue-kue berbahan baku tepung singkong tidak kalah enak dengan kue-kue yang dibuat dari tepung terigu. "Dengan teknik pembuatan roti tertentu, aroma langu yang menjadi ciri dari tepung singkong bisa tidak tercium," ujar Sri yang pernah mendapatkan Pangan Award dari Unit Kerja Mandiri Kementerian Perdagangan RI Kategori Diversifikasi Pangan pada November 2009. awm/L-2






